
Desa Girilaya, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Cipanas kabupaten Lebak – Banten, kembali memukau dengan tradisi uniknya dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi Ngatir, yang dikenal juga dengan nama Ngariung Bakul, berlangsung dengan penuh semangat di dua lokasi penting: Masjid Al-Mukhlisin di Cilisung dan Masjid di Kampung Cimarkum. Tradisi ini bukan hanya sebuah perayaan, melainkan sebuah bentuk syukur dan kebersamaan yang mendalam bagi masyarakat desa.
Kemeriahan Ngatir di Masjid Al-Mukhlisin Cilisung dan Masjid Kampung Cimarkum
Pada 12 Rabiul Awal, kedua masjid ini menjadi pusat kegiatan yang meriah. Di Masjid Al-Mukhlisin di Cilisung, warga desa berkumpul dengan antusiasme tinggi. Lapangan sekitar masjid dihiasi dengan berbagai dekorasi yang menyambut kehadiran Maulid Nabi. Warga datang dengan membawa bakul berisi hidangan khas, termasuk ayam bakakak, beras, dan berbagai makanan lezat lainnya. Acara dibuka dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, dilanjutkan dengan tausiyah yang memberikan pencerahan tentang kehidupan dan ajaran Nabi Muhammad SAW.
Di Masjid Kampung Cimarkum, suasana Ngatir juga sangat meriah. Di sini, masyarakat berkumpul dengan membawa bakul yang berisi hidangan serupa, termasuk ayam bakakak dan beras. Dengan suasana yang lebih intim, acara ini memberikan kesempatan bagi warga untuk lebih dekat berinteraksi satu sama lain. Sama seperti di Masjid Al-Mukhlisin, kegiatan dimulai dengan doa bersama dan tausiyah, diikuti dengan Ngariung Bakul di mana setiap keluarga menyajikan hidangan mereka dan berbagi dengan tetangga dan pengunjung.
Makna Sosial dan Spiritualitas Ngatir
Ngatir di Desa Girilaya tidak hanya sekadar perayaan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga merupakan refleksi dari nilai-nilai sosial dan spiritual yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Tradisi ini mengajarkan arti penting dari gotong royong, kepedulian terhadap sesama, dan rasa syukur. Dengan berbagi makanan dan kebahagiaan, Ngatir membantu mempererat hubungan antarwarga dan menghilangkan kesenjangan sosial.
Pelestarian Budaya dan Kearifan Lokal
Ngatir di Desa Girilaya juga berfungsi sebagai alat untuk melestarikan budaya dan tradisi lokal. Dengan melibatkan seluruh masyarakat dalam perayaan, tradisi ini memastikan bahwa nilai-nilai budaya tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya, memperkenalkan kekayaan budaya Girilaya kepada masyarakat luas.
Di tengah perubahan zaman yang cepat, Ngatir tetap menjadi simbol kekuatan komunitas dan pelestarian budaya lokal. Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Girilaya menjaga dan merayakan warisan mereka dengan penuh semangat dan kebanggaan.
Kesimpulan
Tradisi Ngatir di Desa Girilaya, yang diadakan di Masjid Al-Mukhlisin Cilisung dan Masjid Kampung Cimarkum, adalah contoh nyata dari bagaimana sebuah komunitas dapat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara yang penuh makna dan kehangatan. Dengan memadukan aspek spiritual dan sosial, Ngatir tidak hanya menghormati sejarah dan ajaran agama, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan melestarikan budaya lokal. Tradisi ini adalah wujud nyata dari kekuatan komunitas dan kearifan lokal di tengah dinamika zaman modern.















Hari ini : 10
Kemarin : 5
Total Kunjungan : 4485
One comment
H. Ajun hidayat
17 Oktober 2024 at 11:33
Dengan memperingati hari lahir Nabi Muhamad Saw..kita terus lestarikan Budaya ngatir bentuk syukur masyarakat Desa Girilaya.